Laporan Akhir Praktikum Gallus gallus bankiva

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM BIOLOGI

Gallus-gallus bankiva (Aves)

                                                            Oleh                : 

                                                            Kelas               : E

                                                            Kelompok        : 5

Sofa Marwah                          200110120263

Cecep Tedi Johansyah           200110120264

Yan Patar H Hutabarat           200110120265

Mochammad Lutfi H               200110120266

Muhammad Abdan S             200110120267

Anisa Fitriana                          200110120268

Rahmatika Choiria                  200110120269

           

 

 

 

 

FAKULTAS PETERNAKAN

UNIVERSITAS PADJADJARAN

SUMEDANG

2012

I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Gallus (ayam) merupakan sub phylum dari verterbrata yang memiliki class Aves. Gallus digolongkan dalam class Aves (burung) karena memiliki bulu, bersayap, kelompok hewan verterbrata, dan endotermik atau berdarah panas.

Karakteristik dari Gallus antara lain adalah; tubuh ditutupi oleh bulu, homoiothermal, alat gerak bagian depan berupa sayap untuk terbang, alat gerak bagian belakang digunakan untuk berjalan, kaki dipenuhi sisik, pada bagian mulut terdapat paruh dan gigi, jantung terdiri atas empat ruang yaitu dua atrium dan dua ventrikel, saluran pernapasan dilengkapi kantung udara dan memiliki syrinx, sisa eksresi berupa semisolid dan tidak mempunyai kantung kemih, fertilisasi internal, oviduct kanan mengalami rudimenter dan oviduct kiri mengalami perkembangan.

Gallus (ayam) memiliki berbagai macam species. Salah satunya adalah Gallus-gallus bankiva. Taksonomi dari Gallus-gallus bankiva adalah sebagai berikut; Filum Chordata, sub Filum Vertebrata, Divisio Carinatae, Class Aves, Ordo Galliformes, Famili Gallitordae, Genus Gallus, Species Gallus-gallus bankiva.

Dalam penyusunan laporan akhir praktikum ini, kami bermaksud mengenalkan anatomi dari Gallus-gallus bankiva yang berupa struktur dan fungsi pada masing-masing organ dari Gallus-gallus bankiva

1.2  Maksud dan Tujuan

Setelah menyelesaikan praktikum, praktikan diharapkan dapat:

  1. Menyebutkan karakteristik Gallus-gallus bankiva
  2. Menunjukkan apparatus digestorius Gallus-gallus bankiva
  3. Menunjukkan apparatus respiratorius Gallus-gallus bankiva
  4. Menunjukkan sistem sirkulasi Gallus-gallus bankiva
  5. Menunjukkan apparatus urogenitalis Gallus-gallus bankiva

1.3  Waktu dan Tempat

Praktikum Gallus-gallus bankiva dilakukan pada:

Hari, tanggal    : Selasa, 16 Oktober 2012

Waktu              : 10.00-12.00 WIB

Tempat            : Laboratorium Produksi Ternak Unggas Gedung 4 lantai 2 Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

II

TINJAUAN PUSTAKA

Aves adalah hewan yang paling dikenal orang, karena dapat dilihat di mana-mana, aktif pada siang hari dan unik dalam hal memiliki bulu sebagai penutup tubuh. Dengan bulu itu tubuh dapat mengatur suhu dan terbang. Dengan kemampuan terbang itu aves mendiami semua habitat. Warna dan suara beberapa Aves merupakan daya tarik mata dan telinga manusia. Banyak diantaranya mempunyai arti penting dalam ekonomi, sebagian merupakan bahan makanan sumber protein. Beberapa diantaranya diternakkan. Kata Aves berasal dari kata latin dipakai sebagai nama klas, sedang Ornis dari kata Yunani dipakai dalam Ornithologi berarti ilmu yang mempelajari burung-burung ( Jasin, 1992 ).

Burung telah memberikan manfaat luar biasa dalam kehidupan manusia. Beberapa jenis burung seperti ayam, kalkum, angsa dan bebek telah didomestikasi sejak lama dan merupakan sumber protein yang penting, daging maupun telurnya. Disamping itu, orang juga memelihara burung untuk kesenangan. Banyak jenis burung semakin langka di alam, karena diburu manusia untuk kepentingan perdagangan, selain itu populasi juga terus menyusut karena rusaknya habitat burung akibat kegiatan manusia ( Ville, 1991 ).

Aves hidup di darat. Kelompok ini dibedakan menjadi dua, berdasarkan kemampuan terbangnya, yaitu karinata dan ratita. Burung yang tergolong karinata memiliki taju dada (carina). Taju dada berfungsi menyokong otot dadanya yang besar. Otot dada memberikan kekuatan terbang. Pada pinguin contohnya pada pinguin gentoo ( Anonim b, 2010 ).

            Ayam hutan (Gallus sp) merupakan nama umum untuk jenis-jenis ayam liar yang hidup di hutan. Dalam bahasa jawa disebut ayam alas, bahasa madura (Ajem alas) dan dalam bahasa Inggris disebut junglefowl. Semua istilah tersebut merujuk ada pada habitat dan sifat hidupnya yang liar. Di dunia saat ini terdapat 4 jenis ayam hutan yaitu; ayam hutan merah (Gallus gallus), ayam hutan Srilangka (Gallus lafayetii), ayam hutan kelabu (Gallus sonneratii) dan ayam hutan hijau (Galus varius). Di Indonesia sendiri terdapat dua spesies ayam hutan yaitu spesies Gallus gallus dan spesies Gallus varius. Perbedaan dua spesies ini terdapat pada kondisi habitatnya. Gallus gallus lebih menyukai habitat yang tertutup sedangkan Gallus varius lebih menyukai habitat yang terbuka dan berbukit-bukit. (Widnyana, 2010).

Ayam hutan merah (Gallus gallus) memiliki penyebaran yang cukup luas di dunia. Penyebarannya berada pada kawasan hutan tropis dan dataran rendah dimulai dari India, Bangladesh, China, Vietnam, Myanmar  Malaysia hingga Indonesia. Ada 5 sub spesies ayam hutan merah, dua diantaranya terdapat di Indonesia, yakni Gallus gallus gallus di Sumatera dan Sulawesi, dan Gallus gallus bankiva di Jawa dan Madura, sedangkan Gallus gallus murghi terdapat di India dan Bangladesh., Gallus gallus spadiceus di Myanmar dan Vietnam dan Gallus gallus jaboullei di China Selatan serta pulau Hainan. Istilah Gallus gallus gallus Sumatera terkadang lebih umum disingkatkan dengan Gallus gallus (Anonimus, 2009). Selain memiliki spesies Gallus gallus, di Indonesia sebenarnya juga terdapat jenis ayam hutan lainnya dari spesies Gallus varius (ayam hutan hijau) yang terdistribusi di Pulau Jawa, Bali, Lombok, Flores, dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. (Alamendah, 2009). Notosusanto (2008) menyebutkan untuk ayam hutan merah dari jawa selain Gallus gallus bankiva juga dikenal dengan istilah Gallus gallus javanicus.

Di Indonesia terdapat dua sub spesies dari ayam hutan (Gallus gallus) yaitu; Gallus gallus gallus dan Gallus gallus bankiva. Gallus gallus gallus memiliki ciri-ciri bobot ayam jantan dewasa 0,9 – 1,2 kg sedangkan bobot ayam betinanya 0,7 – 0,8 kg. Pada saat musim kawin, produksi telurnya 5-7 butir per musim. Adapun Gallus gallus bankiva bobot ayam jantannya 0,7 kg dan betina 0,4 kg. Produksi telur sama dengan Gallus gallus gallus yaitu 5-7 butir per musim. Telur berwarna kuning pucat kemerahan. (SBW, 2009).

Kedua sub spesies tersebut dianggap merupakan nenek moyang ayam buras yang sudah didomestikasi dan dibudidayakan pada masa sekarang (Anonimus, 2009). Sedangkan nenek moyam ayam bekisar merupakan hasil persilangan ayam hutan merah dan ayam hutan hijau (Widnyana, 2010).

Ayam hutan dari spesies Gallus diduga merupakan nenek moyang dari semua jenis ayam yang ada saat ini. Gallus bankiva merupakan ayam hutan hijau yang hidup di hutan-hutan pulau Jawa, terutama Jawa Tengah, Jawa Timur; Madura; Bali; Lombok, Flores, dan Nusa Tenggara. Ciri-cirinya adalah sebagai berikut:

  1. Warna bulu pada ayam jantan dilapisi lapisan hijau di permukaan atasnya, sedangkan pada ayam betina berwarna cokelat kekuningan.
  2. Jengger hanya satu (single comb)dan permukaan jenggernya licin serta rata atau tidak bergerigi.
  3. Pial satu helai dan terletak di antara kedua belah tulang rahang bawah.
  4. Bulu ekor utama sebanyak 16 helai.
  5. Bulu leher pada jantan bulat dan pendek-pendek.

Puyuh adalah nama untuk beberapa genera dalam familia Phasianidae. Burung ini berukuran menengah. Burung puyuh dari Dunia Baru (famili Odontophoridae) dan puyuh kancing (famili Turnicidae) tidak berkerabat dekat namun nama mereka memiliki perilaku dan karakteristik fisik yang mirip.

Burung puyuh adalah unggas daratan yang kecil namun gemuk. Mereka pemakan biji-bijian namun juga pemakan serangga dan mangsa berukuran kecil lainnya. Mereka bersarang di permukaan tanah, dan berkemampuan untuk lari dan terbang dengan kecepatan tinggi namun dengan jarak tempuh yang pendek. Beberapa spesies seperti puyuh jepang adalah migratori dan mampu terbang untuk jarak yang jauh. Beberapa jenis puyuh diternakkan dalam jumlah besar. Puyuh jepang diternakkan terutama karena telurnya. (Wikipedia.com)

      Burung Puyuh ialah burung yang berasal dari Amerika dan pertama kali diternakkan tahun 1870 merupakan jenis burung yang tidak dapat terbang, ukuran tubuh relatif kecil dan berkaki pendek. Jantan Merupakan Pedaging sedangkan Betina Merupakan Petelur, tetapi betina yang akhir juga di manfaatkan dagingnya. ((Fumihito, dkk, 1994).

Puyuh termasuk dalam klasifikasi bangsa burung. Ciri-ciri umumnya adalah tidak dapat terbang, ukuran tubuh relatif kecil, berkaki pendek, dapat diadu, dan bersifat kanibal. Coturnix coturnix japonica merupakan salah satu jenis puyuh yang lazim diternakkan (Listiyowati dan Roospitasari 1995).

Itik termasuk ke dalam kelompok unggas air (water fowl) dan masuk ke dalam kelas Aves, ordo Anseriformes, dan family Anatidae (Achmanu 1997). Menurut Suharno dan Setiawan (1999) itik merupakan unggas air yang memiliki ciri-ciri kaki relatif lebih pendek dibandingkan tubuhnya dan jarinya dihubungkan dengan selaput renang; paruhnya ditutupi oleh selaput halus yang sensitif; bulu berbentuk cekung, tebal ke arah tubuh, dan berminyak; itik dewasa memiliki lapisan lemak di bawah kulit; daging itik tergolong daging gelap (dark meat); dan tulang dada itik datar seperti sampan. Suharno dan Setiawan (1999) menambahkan bahwa itik bersifat omnivorous (pemakan segala) yaitu memakan bahan dari tumbuhan dan hewan seperti biji-bijian, rumput-rumputan, ikan, bekicot, dan keong.

Menurut Simanjuntak (2005) itik yang banyak diternakan di Indonesia adalah spesies Anas domesticus.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

III

ALAT, BAHAN, DAN PROSEDUR KERJA

 

3.1 Alat

   1. Bak preparat

   2. Plastik

 

3.2 Bahan

   1. Seekor ayam yang sudah mati

   2. Dua ekor puyuh hidup

   3. Seekor itik yang sudah mati

3.3 Prosedur Kerja

   1. Menyiapkan alat dan bahan

   2. Meletakkan katak dalam bak preparat

   3. Mengamati bagian-bagian ayam dan puyuh

   4.Menggambar bagian-bagian organ yang terlihat dan mengkomunikasikan bersama asisten dosen

5. Melakukan diskusi dengan asisten dosen dan teman dalam satu kelompok

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

IV

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

 

4.1 Hasil Pengamatan

 

 

 

 

 

 

 

 

4.1.1 Gambar Morfologi Puyuh

 

 

 

 

 

 

 

 

4.1.2 Gambar Apparatus Digestivus Gallus-gallus bankiva

 

 

 

 

 

 

 

 

4.1.3 Gambar Morfologi Itik

 

 

 

 

 

 

4.1.4 Gambar Tractus Respiratorius Itik

 

 

 

 

 

 

 

4.1.5 Gambar Organo Genitalia Femina Gallus-gallus Bankiva

 

 

 

 

 

 

 

4.1.6 Gambar Organo Genitalia Masculina Gallus-gallus Bankiva

4.2 Pembahasan

4.2.1 Morfologi Puyuh

Morfologi burung puyuh (Coturnix-coturnix japonica) terdiri atas organon visus, rostrum, truncus, extremitas, dan cauda. (dokumentasi penulis)

4.2.2 Sistem Pencernaan Ayam

Pengamatan sistem pencernaan ayam terdiri atas; esophagus, crop, proventriculus, gizzard, jejunum, duodenum, dua colic caeca, usus besar, kloaka, pancreas, ileum.

Tructus digestivus terdiri atas paruh, cavum oris di dalamnya terdapat lingua kecil runcing yang dibungkus oleh lapisan zat tanduk sabagai lanjutannya adalah parink yang pendek, kemudian oesophagus yang panjang dan pada beberapa burung terjadi perluasan yang disebut crop sebagai tempat penimbunan bahan makanan sementara dan pelunakan ( Jasin, 1992 ).

4.2.3 Morfologi Itik

Pengamatan sistem pencernaan itik terdiri atas; caput, colum, rostrum, truncus, cauda, extremitas, dan selaput.

Pada bebek tubuh dibedakan atas Caput (kepala) terdapat rostrum (paruh), yang terbentuk dari maxilla, nares (lubang hidung), cera, merupakan suatu tonjolan kulit yang lemah dan terdapat pada rostum bagian atas.Organon visus (alat penglihat), porus acusticus externus (lubang telinga luar), terletak di sebeleh dorso-caudal mata, sedangkan membrana tymphani yang terdapat disebelah dalamnya untuk menangkap getaran suara. Pada cervix (leher) biasanya panjang.Truncus (badan), dibungkus oleh kulit yang seolah-olah tak melekat pada otot. Dari kulit akan muncul bulu dari hasil pertumbuhan epidermis menjadi bentuk ringan, fleksibel dan berguna sebagai pembungkus tubuh yang sangat resisten. Dan Caudal (ekor) mempunyai bulu-bulu ekor yang berpangkal di uropygium.  (Mukayat. 1990)

4.2.4 Sistem Pernapasan Itik

Pengamatan system pernapasan itik terdiri atas; nares anteriorus, nares posteriorus, trachea, bronchus, pulmo, dan bifucartio trachea.

Bernafas dengan paru-paru yang berhubungan dengan kantong udara (sakus  pneumatikus) yang menyebar sampai ke leher, perut dan sayap. Kantong udara terdapat pada pangkal leher (servikal), ruang dada bagian depan (toraks anterior) antar tulang selangka (korakoid), ruang dada bagian belakang (toraks posterior), rongga perut (saccus abdominalis), ketiak (saccus axillaris) pada kantong udara berfungsi, membantu pernafasan terutama saat terbang, menyimpan cadangan udara (oksigen), memperbesar atau memperkecil berat jenis pada saat burung berenang, mencegah hilangnya panas tubuh yang terlalu banyak. Inspirasi yaitu udara kaya oksigen masuk ke paru-paru. Otot antara tulang rusuk (interkosta) berkontraksi sehingga tulang rusuk bergerak ke luar dan tulang dada membesar. Akibatnya teklanan udara dada menjadi kecil sehingga udara luar yang kaya oksigen akan masuk. Udara yang masuk sebagian kecil menuju ke paru-paru dan sebagian besar menuju ke kantong udara sebagai cadangan udara.  Dan Ekspirasi yaitu otot interkosta relaksasi sehingga tulang rusuk dan tulang dada ke posisi semula. (Maskoeri. 1991)

4.2.5 Sistem Reproduksi Ayam Betina

Pengamatan system reproduksi ayam betina terdiri atas; infundibulum, oviduct,  ovary, magnum, isthmus, uterus, vagina, cloaca, usus besar, anus. 

 Urutan perjalanan telur: Infundibulum/papilon : panjang 9 cm fungsi untuk menangkap ovum yang masak. Bagian ini sangat tipis dan mensekresikan sumber protein yang mengelilingi membran vitelina. Kuning telur berada di bagian ini berkisar 15-30 menit. Pembatasan antara infundibulum dan magnum dinamakan sarang spermatozoa sebelum terjadi pembuahan.  Magnum : bagian yang terpanjang dari oviduk (33cm). Magnum tersusun dari glandula tubiler yang sangat sensibel. Sintesis dan sekresi putih telur terjadi disini. Mukosa dan magnum tersusun dari sel gobelet. Sel gobelet mensekresikan putih telur kental dan cair. Kuning telur berada di magnum untuk dibungkus dengan putih telur selama 3,5 jam. Isthmus: mensekresikan membran atau selaput telur. Panjang saluran isthmus adalah 10 cm dan telur berada di sini berkisar 1 jam 15 menit sampai 1,5 jam. Isthmus bagian depan yang berdekatan dengan magnum berwarna putih, sedangkan 4 cm terakhir dari isthmus mengandung banyak pembuluh darah sehingga memberikan warna merah.  Uterus : disebut juga glandula kerabang telur, panjangnya 10 cm. Pada bagian ini terjadi dua fenomena, yaitu dehidrasi putih telur atau /plumping/ kemudian terbentuk kerabang (cangkang) telur. Warna kerabang telur yang terdiri atas sel phorphirin akan terbentuk di bagian ini pada akhir mineralisasi kerabang telur. Lama mineralisasi antara 20 – 21 jam. Vagina: bagian ini hampir tidak ada sekresi di dalam pembentukan telur, kecuali pembentukan kutikula. Telur melewati vagina dengan cepat, yaitu sekitar tiga menit, kemudian dikeluarkan (/oviposition/) dan 30 menit setelah peneluran akan kembali terjadi ovulasi.  Kloaka: merupakan bagian paling ujung luar dari induk tempat dikeluarkannya telur. Total waktu untuk pembentukan sebutir telur adalah 25-26 jam. Ini salah satu penyebab mengapa ayam tidak mampu bertelur lebih dari satu butir/hari. Di samping itu, saluran reproduksi ayam betina bersifat tunggal. Artinya, hanya oviduk bagian kiri yang mampu berkembang. Padahal, ketika ada benda asing seperti /yolk/ (kuning telur) dan segumpal darah, ovulasi tidak dapat terjadi. Proses pengeluaran telur diatur oleh hormon oksitosin dari pituitaria bagian belakang.  (Tri Yuwanta, 2004)

4.2.6 Sistem Reproduksi Ayam Jantan

Pengamatan system reproduksi ayam jantan terdiri atas; posterior vena cava, testis, mesorchium, epididimis, fenorial vein, aorta, ginjal, ureter, vas deferens, kloaka.

Sistem reproduksi ayam jantan berupa testes ductus (vas) deferens, dan ogan kopulasi yang bentuknya rudimenter ( belum sempurna ). ayam tidak mempunyai penis. Sperma diproduksi di dalam testis, disalurkan ke luar tubuh melalui ductus deferens yang bermuara pada papilla. Perkawinan ayam jantan dengan ayam betina pada hakikatnya ialah mempersatukan dua kloaka untuk memungkinkan pemancaran sistem yang mengandung sperma. (http://papaji.forumotion.com/t504-sistim-reproduksi-dan-lamanya-perjalanan-sebutir-telur)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

V

KESIMPULAN

     Gallus-gallus bankiva, Coturnix-coturnix japonica, dan Anas platyrhynchos termasuk dalam kelas Aves, yaitu hewan verterbrata endotermik yang memiliki bulu. Morfologi dari ketiga species tersebut umumnya terdiri atas; truncus, cauda, caput, dan extremitas. Sistem pencernaan memiliki tembolok (ingluvies) untuk menyimpan makanan sementara. Sistem pernapasan memiliki bifucartio trachea yaitu dua cabang dari trachea yang ukurannya membesar. Sistem reproduksi pada jantan terdapat sperma dan pada betina terdapat ovarium dan oviduct.

 

 

 

           

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Jasin Maskoeri, 1992. Zoologi Vertebrata. Surabaya : Sinar Wijaya

Villee, 1991. Zoologi Umum. Jakarta : Erlangga.

Anonim ,2010. http://gurungeblog.wordpress.com/2008/11/13/mengenal-Reptil/. diakses  pada tanggal 27 Oktober 2012 jam 20.00.

Windyana,Surya. Ayam Hutan.Http//.www.anakbali.blogspot.com diakses  pada tanggal 27 Oktober 2012 jam 20.10

Fumihito, A., T. Miyake, S. Sumi, M. Takada, S. Ohno and N. Kondo. 1994. One Subspecies of the Red Junglefowl (Gallus gallus gallus) Suffices As the Matriarchic Ancestor of all Domestic Breeds. Proc. Natl. Acad. Sci. http://www.feathersite.com/Poultry/CGP/Rapa/BRKAyamBek.html diakses  pada tanggal 27 Oktober 2012 jam 20.15

http://papaji.forumotion.com/t504-sistim-reproduksi-dan-lamanya-perjalanan-sebutir-telur diakses  pada tanggal 28 Oktober 2012 jam 06.45

Tri Yuwanta, 2004, Dasar Ternak Unggas, Kanisius, Yogyakarta

Maskoeri. 1991. Zoologi Hewan, Erlangga, Jakarta.

 

 

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s