Menjadi Vampir

Siapa menyangka kalau aku adalah pengidap talasemia? Teman-temanku pun tidak pernah tahu akan kelainanku itu. Memang wajahku selalu pucat. Untuk orang yang baru kenal denganku pasti mereka akan selalu menanyakan hal yang sama. Beginilah kira-kira pertanyaannya.

“Kamu sakit ya?”

“Kok pucat sekali”

Dan aku hanya bisa menjawab dengan jawaban sederhana tanpa menyebut nama kelainanku tersebut.

            “Enggak kok”

            “Ya, emang setiap harinya pucat begini”

Beruntungnya mereka tidak mencecarku dengan pertanyaan-pertanyaan lain seputar kepucatanku itu. Memang, keluargaku sengaja menyembunyikan penyakit keturunanku ini. Mereka tidak ingin banyak orang tahu, dan meremehkan kemampuanku.

Aku tidak tahu sejak kapan aku mendapatkan penyakit bernama Talasemia itu. Tiba-tiba saja ia bersarang di tubuhku tanpa meminta izin dulu kepadaku. Yang kutahu dari cerita orang tuaku, aku dulu saat berumur lima tahun pernah sakit demam berdarah dan tifus. Dan sakitku itu sempat membawaku ke alam ketidaksadaran bahkan aku sudah hampir bertemu malaikat Izroil. Hingga dokterku menganggap aku sebagai anaknya sendiri.

Usai sakitku itu, aku kembali sehat seperti sedia kala. Aku tidak pernah opname-opname lagi di rumah sakit. Sampai ketika aku kelas dua Sekolah Dasar, aku mengalami kecelakaan. Sebenarnya kecelakaan itu karena salahku sendiri. Saat itu aku naik sepeda dan didorong oleh kakakku dari belakang. Aku terlalu kebanyakan gaya. Aku ingin menunjukkan atraksi naik sepeda dengan lepas tangan. Alhasil atraksiku itu membuat tanganku patah dan retak.

Orang tuaku membawaku ke rumah sakit Islam Kustati (Surakarta). Disana aku mendapat tindakan operasi dari dokter. Sebelum dioperasi, rupanya jumlah hemoglobin aku mengalami penurunan. Aku harus menjalani transfusi terlebih dahulu, sebelum dioperasi.

Mungkin itulah awal mula munculnya talasemiaku. Namun aku dan orang tuaku sama sekali tidak menyadari dan juga menghiraukan kejadian tersebut. Bukankah transfuse sebelum operasi itu juga biasa dilakukan oleh kebanyakan orang?

Sejak saat itu, aku menjadi sering sakit dan berkunjung ke dokter. Mulanya, dokter mengatakan aku hanya terkena maag biasa. Lama kelamaan, sakitku tidak kunjung sembuh. Padahal sudah minum berbagai macam obat. Orang tuaku memutuskan untuk membawaku ke dokter spesialis anak. Dokter itu mengatakan aku terkena talasemia dan harus ditransfusi darah.

Aku menjalani transfusi darah pertama kali (pasca operasi) saat kira-kira aku masih kelas lima Sekolah Dasar. Rasanya sungguh tidak enak. Aku membayangkan harus opname dan berteman dengan infus dan jarum-jarum suntik. Aku ngambek. Aku tak mau ditransfusi. Aku termangu di poli anak Rumah Sakit selama berjam-jam. Usaha ibuku untuk membujukku tidak membuahkan hasil. Namun, aku tetap berada dalam posisi yang salah. Sakitku yang tak kunjung reda, akhirnya membuatku pasrah dan menurut apa kata dokter.

Masih aku ingat, waktu itu kamar di Rumah Sakit sedang habis. Orang tuaku bingung. Aku harus rawat inap dimana? Untungnya, aku dan orang tuaku bertemu dengan dokter yang menanganiku saat aku terkena demam berdarah dan tifus sampai koma berjam-jam. Dokter itu sangat menyambut hangat kehadiranku di rumah sakit kotaku. Dokter itu bernama Agus Wiyanto.

            “Hei,, anakku”

            “Ada apa nak, kok kesini,”sapa dokter Agus.

            “Mau transfusi dok”

            “Tapi belum mendapat kamar,”jawab ibuku.

            “Oh, sakit apa lho bu,?”tanya dokter Agus lagi.

            “Tales,, dok”

            “Ini tadi disarankan transfusi sama pak Eko” (dokter spesialis anakku)

            “Ya..ya..ya..”

            “Ini ada kamar UGD kosong bu. Barangkali mau istirahat disitu dulu,”tawar dokter Agus.

            “Beneran dok?”

            “Iya bu. Kalau mau, silakan ditempati dulu”

            “Makasih banyak dok,”ujar ibuku kemudian.

            “Iya bu, sama-sama. Maaf bu, saya pamit dulu. Mau visite”

            “Oiya dok, silakan. Makasih ya,”jawab ibuku lagi.

Dengan berlinang air mata karena isak tangis yang tak bisa kubendung lagi, aku pasrah. Beristirahat sejenak di ranjang UGD.  Setelah menunggu selama kurang lebih dua jam, akhirnya ada kamar yang kosong. Aku pun dipindahkan ke kamar itu.

Di kamar Anggrek, aku mendapatkan tindakan dari beberapa perawat. Mereka menyuntikku untuk mengalirkan cairan putih berisi Natrium Klorida ke dalam tubuhku. Barulah setelah cairan infus Natrium Klorida habis, tubuhku mendapat asupan darah.  Dua kantong darah belum cukup untuk menormalkan jumlah keping-keping darahku. Itu artinya, aku akan berada lebih lama dalam kamar yang tak ber-AC tersebut.

Barulah setelah kira-kira berada seminggu dalam kamar penat itu, hemoglobin telah kembali normal. Aku diizinkan pulang oleh dokter. Rasanya senangnya hati ini, bisa menghirup  nikmatnya udara di luar rumah sakit dan juga bisa bebas dari selang infus dan suntikan para perawat.

Aku berharap setelah di rumah, darah yang telah mengalir ke tubuhku tersebut dapat berguna. Dan aku sehat kembali. Namun harapanku tersebut hanya terwujud beberapa jam saja. Aku tak bisa merebahkan tubuhku. Dunia serasa berputar saat aku mencoba berbaring untuk tidur. Kepalaku pusing bukan kepalang. Semalaman aku tidur dengan berdiri. Tubuhku aku sandarkan di almari kamarku untuk menjaga diriku agar tidak terjatuh.   

Esoknya aku tak diizinkan pergi ke sekolah oleh orang tuaku. Itu artinya aku akan ketinggalan pelajaran lebih banyak lagi. Dan aku harus bisa mengejar seluruh ketertinggalanku tersebut. Karena cita-citaku adalah bersekolah di sekolahnya kakak-kakakku dulu. Yakni SMP Negeri 1 Ponorogo. Sekolah terfavorit di kotaku.

Banyak yang berubah, setelah keluargaku mengetahui kelainanku. Diantaranya adalah menu makanku. Aku yang dari kecil memang tak doyan sayur, harus mencoba memakannya. Uft… tetap saja rasanya tidak nikmat. Dan menu sayur untukku pun tak bertahan lama. Rupanya orang tuaku tak kurang akal dalam menjaga kesehatan bungsunya. Mereka membelikanku hati ayam sebagai menu makanan baru. Ya! Itulah makananku sampai saat ini.

Meski sudah mendapat banyak suntikan makanan yang dapat meningkatkan darah, aku tetap harus transfusi juga. Aku belum sembuh seutuhnya. Dan aku tidak yakin, untuk bisa sembuh total dari talasemia. Tiga bulan sekali dokter menyarankanku untuk transfuse darah. Namun aku adalah pasien yang sangat membandel. Aku tetap bersikukuh untuk sekolah. Tak mau izin barang sehari pun. Apalagi untuk tiga hari.

Akan tetapi apa daya, takdirku adalah menjalani transfuse darah. Bagaimanapun juga aku tak dapat mengelak atas pemberian Sang Maha Kuasa tersebut.  Aku mencoba bersyukur atas semua kehendak-Nya.

“Akulah vampire,”jerit batinku.

Tak ada nada menyesal dalam jeritanku tersebut. Yang ada hanyalah ungkapan rasa syukur atas sumbangan darah dari kakak dan bapakku. Darah tersebut perlahan-lahan telah mengalir dalam tubuhku. Menormalkan kembali fungsi jantung. Yaitu untuk memompa darah.

Aku sedikit terhibur dengan kata-kata dokter saat visite ke kamarku pagi ini.

“Gimana dok?” tanya ibuku.

“Alhamdulilah bu. Sudah agak baikan”

            “Besok mungkin sudah bisa istirahat di rumah”

            “Oiya,, beruntung bu”

            “Anak ibu talasemianya minor”

            “Ya dok, makasih”

            Kata penutup dokter Eko itulah yang membuatku sedikit terhibur dan kembali girang. Itu artinya, darahku masih bisa bertahan lebih lama dibandingkan darah para pengidap talasemia lain. Aku masih bisa menikmati masa kecilku. Layaknya masa kecil anak-anak seusiaku. Aku dapat bersekolah dan juga mendapat ranking yang tak kalah dari anak-anak normal lain.

            Sejak saat itu, aku telah menghilangkan pikiran tentang talasemia tersebut. Aku tak mau terlalu larut, sehingga akan turut berpengaruh dalam prestasiku. Aku selalu berpikiran selama aku sehat, maka talasemia itu hilang dari hidupku. Itulah pikiran pokok yang telah tertanam sejak lama dalam otakku.

            Hari ini, tepat pengumuman hasil tes seleksi masuk SMPN 1 Ponorogo. Aku termasuk salah satu dari seribu pendaftar yang turut berdesakan. Menyerbu papan pengumuman. Dapat! Namaku ada disitu.

            “Aku resmi sekolah di SMPN 1 Ponorogo!!!” teriak kalbuku.

            Namun aku juga kasihan pada salah satu temanku. Padahal hasil UANnya adalah terbaik satu sekolahan. Akan tetapi ia gagal bersekolah di bekas rumah sakit jajahan Belanda tersebut. Aku telah mewujudkan satu cita-citaku di masa lalu. Sekolah di tempat yang sama dengan kakak-kakakku. Yakni SMPN 1 Ponorogo.

            Awal masuk SMP aku tak mempunyai teman satu pun. Aku juga sering bahkan selalu menjadi bahan olokan teman-teman sekelas. Terutama teman laki-lakiku. Aku selalu disuruh membersihkan papan tulis, walaupun itu adalah tugas siswa laki-laki. Aku juga sering disuruh membeli jajan di kantin. Tak ada yang bisa kulakukan selain bersabar. Meski kadang aku juga mengepalkan telapak tangan gara-gara kesal dengan tingkah semena-mena dari mereka. Aku hanya bisa berharap.

”Aku akan lebih sukses dari mereka,”pekik hatiku.

Aku masih menjalani hari-hariku dengan biasa. Aku tak pernah menganggap diriku adalah seorang berpenyakitan. Selama aku sehat, maka aku melupakan talasemiaku. Yah, meski aku tahu, aku tak bisa melupakan ia (talasemia: red) selamanya. Ia tetap bersarang dalam tubuhku. Kelainanku itu memang tidak bisa disembuhkan. Hanya bisa diobati dengan transfuse.

Tiga bulan sekali, aku harus mengajukan surat izin ke sekolah. Tentunya surat izin sakit selama tiga hari bahkan kadang sampai seminggu. Aku memang tidak terlalu pandai. Tapi aku juga tidak bodoh. Alhamdulilah, aku juga bisa naik kelas dengan ranking yang cukup memuaskan.

Tahun kedua di SMP Negeri 1 Ponorogo. Aku mendapat bangku di kelas VIII E. Temanku telah berganti. Aku mendapat teman satu bangku. Tak seperti di kelas VII yang lalu. Tahun lalu, aku duduk sendiri. Mengerjakan segala sesuatunya dengan sendiri. Aku bersyukur, tahun keduaku aku mendapat teman yang baik.

Aku mulai mengembangkan diriku. Aku ikut suatu organisasi di lingkungan rumahku. Organisasi itu adalah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM). Di IPM, aku mendapat teman baru. Ada yang sudah kuliah, sudah SMA, namun ada juga yang seusia denganku (SMP: red). Di organisasiku tersebut, aku dituntut untuk bisa bergaul dengan semua lapisan masyarakat tanpa batasan usia.

Aku belajar banyak hal di IPM. Tak hanya soal berorganisasi dan bergaul, bahkan aku belajar pelajaran yang sangat penting. Pelajaran tersebut kini mulai diabaikan dalam masyarakat ataupun sekolah. Pelajaran itu adalah tata krama. Mulai dari tata krama bertamu, tata krama meminta bantuan dana, tata krama menyerahkan undangan, dan masih banyak lagi lainnya.

Di IPM, aku sering ditunjuk menjadi sekretaris panitia suatu kegiatan. Dari situlah aku belajar membuat proposal dan membuat undangan. Aku juga sering mendapat tugas mencari bantuan dana kepada bapak-bapak Muhammadiyah. Oleh karena itu, aku mulai tahu adab tata krama bertamu sekaligus tata krama meminta bantuan.

Aku juga selalu didapuk menjadi guru kecil, saat kegiatan pendidikan ramadhan. Dalam pendidikan ramadhan tersebut, aku harus mengajar adik-adik usia Sekolah Dasar. Tak hanya mengajar saja, aku juga harus bisa mengayomi mereka. Seringkali ada pertengkaran diantara mereka. Mau tidak mau aku harus bisa melerai mereka. Aku juga harus bisa membujuk adik-adik yang hendak makan/minum di hadapan teman-temannya. Agar tidak membatalkan puasa teman-temannya. Pekerjaan yang cukup sulit, apalagi aku lakukan pada saat puasa. Akan tetapi, aku ikhlas melakukan semua itu. Rasa lapar dan dahagaku justru hilang karena melihat mereka. Aku malah merasa senang, karena puasaku menjadi lebih bermakna.

 Aku sudah lama tidak menjalani transfuse darah. Sudah hampir satu tahun. Itu karena ikhtiar orang tuaku. Ibuku memberiku banyak suplemen penambah darah. Yah, itulah makananku sehari-hari. Kadang aku juga capek harus mengkonsumsi pil pil tersebut. Namun apa lagi yang bisa aku lakukan selain menuruti ikhtiar orang tuaku.

Sekarang aku udah kelas XI. Aku bersekolah di SMA Negeri 1 Ponorogo. SMA terbaik di kotaku. Di SMA 1 Ponorogo, aku bisa menyalurkan hobiku. Yakni menulis. Aku ikut ekstrakurikuler jurnalistik di sekolah. Di ekskul tersebut, aku diajari cara menulis yang baik. Termasuk juga cara membuat berita. Aku mulai berkenalan dengan beberapa penulis yang sengaja diundang oleh ekstrakurikulerku.

Beberapa bulan lalu, saat aku browsing lomba menulis untuk ditempelkan di madding sekolahku aku mendapat info menarik. Yakni lomba menulis cerpen remaja yang diadakan oleh Writing Revolution. Writing Revolution adalah sekolah menulis online. Mulai dari sekolah menulis cerpen, sekolah menulis puisi, sekolah menulis artikel, sampai sekolah menulis novel. Semua system pembelajarannya dilakukan secara online. Untuk mengikuti lombanya, aku harus mendaftarkan diri terlebih dahulu. Tanpa pikir panjang, aku segera transfer uang senilai lima puluh ribu rupiah sebagai syarat pendaftaran.

Tak lama setelah aku mendaftarkan diri di sekolah menulis cerpen online Writing Revolution, aku ditambahkan ke grupnya (grup fb). Dari situ, aku mendapat banyak info tentang lomba-lomba menulis. Termasuk lomba menulis dengan tema Berjalan Menembus Batas ini.

Alhamdulilah, dari Writing Revolution naskah cerpenku berhasil masuk antologi. Antologi pertamaku adalah buku Titik Nol dengan cerpenku yang berjudul Gadis Berjilbab Putih. Meski sudah berhasil masuk antologi dan mendapatkan bintangku, aku tak puas begitu saja. Aku masih berusaha mendapatkan bintang-bintang lain.

Bintang kedua yang aku dapat adalah antologi kuper. Naskahku lolos 50 besar antologi tersebut dan juga akan diterbitkan. Bintang selanjutnya aku dapat dari pengalaman konyolku. Cerpenku masuk antologi FF Humor Writing Revolution. Meski aku seorang talasemia, aku bisa menunjukkan kalau aku dapat menggapai bintangku. Aku dapat menggapai mimpiku menjadi seorang penulis. Seperti Pipiet Senja, penulis yang juga menderita talasemia.

 dibuat tahun 2010. Dimuat dalam buku Berjalan Menembus Batas (Ahmad Fuadi, dkk) yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka dengan beberapa perubahan.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s