Si UFO ke Amerika

6 Desember 2010. Hari ini, sekolahku kedatangan siswa baru pindahan dari kota. Kabar-kabarnya, siswa itu nanti akan ditempatkan di kelas XI A5, kelasku. Karena hanyalah kelasku yang jumlah siswanya lebih sedikit daripada kelas-kelas jurusan ipa yang lain. Dan benar saja, dugaanku dan kawan-kawan. Tepat saat bel masuk berbunyi, bu Parmiati wali kelasku masuk ke kelasku bersama seorang siswa baru. Penampilan siswa itu sungguh tak seperti yang kami duga sebelumnya. Sungguh culun sekali. Apalagi dengan kacamata tebal dan kawat gigi berlapis dua tanpa hiasan apapun.

Tak lama kemudian, bu Parmiati menyuruh siswa baru tersebut berkenalan kepada kami. Namanya Rania Fabia Rani. Dia berasal dari MAN 3 Malang. Dia pindah ke sekolahku, karena ayahnya dipindahtugaskan ke kota Ponorogo. Setelah cukup berkenalan, bu Parmiati mengarahkan Rania untuk duduk di sampingku. Memang selama ini, hanya aku siswa di kelas XI A5 yang duduk sendiri. Sebenarnya dulu aku juga memiliki teman sebangku. Namun teman sebangkuku tersebut hanya bertahan seminggu di kelasku. Ia tidak betah berada di jurusan ipa. Hingga ia memutuskan untuk pindah ke kelas ips.

Rania duduk di bangku sampingku. Ia memperkenalkan dirinya lagi kepadaku. “Hei,, na-ma-ku Rania”. “Na-ma-mu siapa?”. “Ria” “Senang bisa memiliki teman sebangku lagi,” jawabku. “Senang bi-sa ber-ke-na-lan denganmu, Ria”. “Sama-sama Rania”. “Eh, Ria minta nomer hapemu donk” Meski sedikit ilfill kuterima aja perkenalan darinya dan memberikan nomer hapeku ke dia. Kulihat dia menginput nomerku di hapenya yang super jadul. Hapenya Rania Nokia tipe 3315. Bukankah itu sudah hape kuno banget ya?, pikirku. Gaya bicaranya juga aneh sekali. Seperti anak SD atau TK. Ketika bel istirahat berbunyi, Nanang ketua kelasku berinisiatif untuk membuat perkenalan lagi kepadanya. Kami maju satu persatu memperkenalkan nama dan alamat kami kepada Rania, siswa baru tersebut.

Sepulang sekolah, kami semua berkumpul.  Kami bermaksud merencanakan Masa Orientasi Siswa kecil-kecilan untuk siswa baru tersebut. “Enak aja, siswa baru tersebut bisa masuk kelas XI IPA 5 tanpa tes” “Kita dulu aja masuk IPA pake tes” “Nah, gimana kalo siswa baru itu kita kerjain dulu,?” usul Nanang. “Setuju..setuju..setuju..,” sahut teman-temanku kompak. “Gak kasihan apa Nang?,”tanyaku memberanikan diri. “Kenapa kasihan, wong ini ndak adil kok” “Ya nggak temen-temen?” “Iyaaaaaaaaaa”. Merasa kalah suara, aku ngikut aja ma temen-temen sekelas. “Ya udah deh, kalo gitu aku ngikut aja” “Tapi jangan keterlaluan ngetesnya,” saranku. “Okkeh Ri gak bakal ampek pingsan kok,”jawab Nanang.

Kesepakatan cara ngejahilin yang diatasnamakan memberi tes masuk buat Rania pun dibuat. Temen-temen kompak, sepulang sekolah besok akan mencegat Rania untuk diinterogasi mengenai dirinya. Aku sebagai teman sebangku Rania, sebenarnya merasa kasihan. Namun aku tak bisa berbuat banyak. Kalau aku melawan teman-teman sekelas, nanti aku akan dimusuhi oleh semua teman-temanku. Dan aku tidak mau itu terjadi.

7 Desember 2010. Hari ini ada pelajaran fisika, mata pelajaran favoritku. Aku berangkat ke sekolah dengan hati girang. Seperti biasa, bu Dian guru fisikaku memberikan kuis kepada semua siswa sebelum memulai pelajaran. Tak kusangka, Rania langsung mengacungkan tangan ketika bu Dian selesai menuliskan soal. Sementara aku masih kasak-kusuk mencari jawaban atas soal tersebut. Padahal biasanya akulah yang paling dulu mengerjakan kuis dari bu Dian. Huh,, Rania mau bersaing denganku rupanya. Oke, aku ladenin kamu, batinku.

Setelah kuis selesai, bu Dian menerangkan bab baru. Yaitu tentang tata surya. Lagi-lagi Rania mencecar guruku itu dengan berbagai pertanyaan. Terutama soal UFO, yang disangka makhluk luar angkasa itu. Teman-teman dan aku, hanya bisa geleng-geleng kepala sembari merasa dongkol melihat tingkah sok centil Rania di depan guru barunya itu. Padahal nampaknya ia anak yang sangat culun. Akan tetapi kami juga tertawa terbahak-bahak dalam hati mendengar nada bicara Rania yang sangat aneh. Pelan dan lembut sekali.

Tepat pukul 15.00 bel pulang sekolah berbunyi. Sesuai rencana, Rania dicegat oleh beberapa orang temanku. Terang saja ia ketakutan. “Ada yang bi-sa sa-ya ban-tu?,” tanyanya pelan sekali. “Ada, sini ikut aku,”jawab Luzi sembari membawa Rania ke kantin belakang sekolah. “Akhirnya nyampek juga di kantin Rania Fabia Rani,”kata Nanang tegas. “Ka-kalian mau ngapain aku?,”tanyanya lagi. “Kami cuma mau kasih sedikit tes kok ma kamu. “Enak aja, kamu bisa masuk kelas kami tanpa tes” “Ta-tapi aku kan sudah ikut tes dan diterima”. “Udah gak usah kebanyakan ngelak, pokoknya kami berikan tes untuk kamu!,”teriak Nanang menambah aura ketegasannya. Tak lama setelah Nanang berteriak kepada Rania, tiba-tiba lantai kantin berair. Panas pula. Ternyata air tersebut bersumber dari Rania. Dia ngompol. “Hei makhluk UFO, kamu tu siswa kelas dua SMA apa masih tk sih?” “Adikku yang masih tk aja gak pernah ngompol,”bentak Nanang. “Maa..af, aku tidak sadar”

Saking jijiknya akhirnya Nanang sepakat membubarkan tes untuk makhluk UFO itu. “Ya udah, gak ada tes untuk kamu”. “Segera pulang sana” “Bau tauk”. Kemudian, Rania langsung berlari menuju parkiran. Dengan menaiki motor 2 taknya yang sempat kulihat, ia pulang. Gila. Hari gini masih pakek motor 2 tak yang asapnya mengepul. Gak gaul banget sih. Padahal ia pindahan dari kota.

Esoknya di sekolah, pelajaran berlangsung seperti biasa. Tak ada seorang pun yang berniat membahas kejadian kemarin. Rania juga tetap berkomunikasi denganku. Hari berganti hari. Perkembangan nilai-nilai Rania semakin meluncur bagai roket. Aku dan teman-temanku tak menyangka kalau dibalik kekuperan dan keculunannya, ternyata tersimpan rahasia. Ia tak hanya menguasai pelajaran IPA, tapi juga pandai dalam berbahasa. Bahkan ia juga menguasai bahasa Jerman, bahasa yang tidak diajarkan di sekolahku. Meski begitu, aku dan teman-temanku tetap tidak mengubah predikatnya. Kami tetap menganggap Rania itu makhluk UFO yang kurang pergaulan. Bahkan kami juga tetap memanggilnya UFO.

Februari 2011. UFO terpilih oleh sekolah untuk mewakili seleksi pertukaran pelajar yang diadakan oleh Kang Guru. Ia menjadi sering keluar kelas dan pergi ke kantor guru ketika bel istirahat berbunyi. Padahal sebelumnya, ia tak berani masuk ke kantor guru dan jarang keluar dari kelas. Namun Rania tetaplah Rania. Ia tetap makhluk UFO yang kami kenal. Ia tetap culun dan kuper. Melihat kesibukan Rania, teman-teman dan aku jadi merasa kesepian. Tak ada lagi anak yang bisa dijahili ketika istirahat. Sehingga waktu istirahat kami terasa hambar.

9 April 2011. Dua minggu yang lalu, adalah pengumuman dari hasil seleksi pertukaran budaya yang diadakan oleh Kang Guru. Rania makhluk UFO itu terpilih sebagai salah satu duta Indonesia yang akan terbang ke benua yang ditemukan oleh Christopher Columbus itu. Ya. Rania mendapat kesempatan bersekolah di Amerika selama setahun. Ia berkata padaku dan teman-teman dengan bahasanya yang lucu. “Ini bu-ah dari ke-kuper-anku selama ini”. ”Terima kasih teman. Ka-lau kalian tidak mengejekku, aku tak akan mung-kin per-gi ke Ame-ri-ka,” ungkapnya.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s