Pantaskah Saya Mengeluh Tuhan?

Di saat seperti ini, selalu saja ingin mengeluh. Di saat pusing melanda, di saat mendadak mimisan, di saat wajah ini terlalu pucat, intinya di saat saya butuh darah. Yah, saya pecandu. Bukan pecandu narkoba atau apa loh. Saya pecandu darah. Saya dilahirkan menjadi sosok manusia istimewa. Ya! Saya menderita thalasaemia. Mengapa kening kalian berkerut? Saya memang berbeda dengan kalian. Namun, kenyataannya saya bisa membuktikan kalau saya bisa seperti kalian. Saya bisa menjadi mahasiswa Fakultas Peternakan, Universitas Padjajaran. Saya bisa kuliah dan mengerjakan tugas-tugas kuliah saya tepat waktu. Di saat teman-teman mengerjakan tugas berupa lapak, sering di saat itu pula saya sedang membuat lingkaran di masjid. Di saat teman-teman menghabiskan liburan dengan pulang kampung, saya mengikuti acara DAD, saya mengikuti Padjajaran Model United Nations, saya mengikuti Bedah Novel SPG dan OR FLP Jatinangor. Sungguh, itu semua aktivitas yang cukup menyita tenaga saya. Rasanya, hati saya selalu melawan bila tubuh ini ingin beristirahat. Saya sering menggadaikan waktu istirahat dengan melakukan hal-hal lain.
Oke, lanjut tentang thalasaemia saya. Saya tahu, saya masih jauh lebih beruntung daripada saudara-saudara saya di Palestina, daripada teman-teman saya sesama thaller, daripada orang-orang lain di jalanan. Ya Allah, namun rasanya bila saya harus transfusi, harus menggadaikan waktu kuliah, harus terbaring di ranjang rumah sakit selama beberapa hari, selalu saja ada muncul keluhan di pikiran saya. Muncul kata “Kenapa harus saya?” dan lain-lain. Padahal saya juga sadar sesadar sadarnya kalau saya itu sangat beruntung. Saya bisa beraktivitas melebihi aktivitas orang normal seusia saya. Dan, maafkan saya Ya Allah, saya mendholimi diri saya sendiri. Saya tidak tahu hb saya berapa. Tapi ini mungkin sudah dibawah 8. Saya masih mencari-cari waktu kosong, saya mempunyai sejuta alasan untuk tidak transfusi, padahal saya tahu ini kebutuhan saya. Manusia itu tidak sempurna. Dan karena ketidaksempurnaan itu, saya sering berkeluh kesah atas penyakit keturunan ini. Pantaskah saya mengeluh Tuhan? (Jatinangor 19 November 2012 usai mimisan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s