Artikel

Pengakuan Palestina Bukan Kemenangan

Senin, 03 Desember 2012 11:44 wib
Rahmatika Choiria. (Foto: dok. pribadi)
Rahmatika Choiria. (Foto: dok. pribadi)
TRAGEDI tak berujung antara Palestina dan Israel, membuat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai lembaga tertinggi di dunia yang menjunjung tinggi perdamaian, harus turun tangan. Palestina membawa masalahnya ke Markas PBB di New York untuk mendapat pengakuan sebagai sebuah negara.  
Menurut Clinton, seperti dilansir AFP 29 November 2012, solusi untuk dua negara ini (Palestina-Israel, red) adalah diskusi di Yerussalem dan Marhalah, bukan di New York (Okezone.com, 30 November 2012). PBB memakai sistem voting dari semua negara, untuk menyelesaikan masalah ini. Dari hasil voting, 138 negara mendukung Palestina, 41 menyatakan abstain, dan sembilan negara menolak Palestina sebuah negara. Hasil itu mengartikan bahwa, ada negara baru di dunia, yaitu Palestina. Pengakuan ini sekaligus menandai kemenangan Palestina atas masalah yang dia bawa ke pertemuan tingkat tinggi negara-negara di dunia itu.
 
Namun, apabila kita berpikir kritis, pengakuan Palestina di markas PBB di New York, yang juga berarti pengakuan Palestina di dunia bukanlah sebuah kemenangan. Mengapa begitu?  Berikut pendapat Israel atas hasil voting PBB tersebut. “Kekalahan Israel? Saya rasa tidak. Mayoritas negara Arab menentukan pilihannya secara otomatis di PBB. Hanya 87 dari 193 negara di PBB yang merupakan negara demokrasi. Ini  menujukkan bahwa, lebih dari 100 negara anggota PBB adalah negara dengan pemerintahan represif. Palestina bergantung para mereka, dan hal itu tidak bisa dikatakan sebagai kekalahan Israel,” ujar Prosor, seperti dikutip Globe, Jumat, 30 November 2012.
 
Secara faktual, voting itu adalah hadiah dari upaya terorisme, hadiah bagi siapapun yang melanggar perjanjian, dan hadiah bagi mereka yang mengelak dari negosiasi,” tegas Prosor. (Okezone.com 30 November 2012)
 
Sebagai mahasiswa muslim, saya tidak melihat pengakuan Palestina ini sebagai sebuah kemenangan. Ini hanya sebuah fatamorgana. Saya yakin, masih banyak warga Palestina yang saat ini tidur tanpa atap, tak sedikit pula yang kesakitan dan kelaparan. Apakah ini sebuah kemerdekaan? Negara tidak bisa merdeka, tanpa rakyatnya ikut merasakan kemerdekaan tersebut.
 
Dari sisi lain, pengakuan Paletina ini bisa melenakan umat Islam untuk menghentikan bantuan-bantuannya dan untuk menarik kembali tentara-tentaranya. Ini bisa dimanfaatkan Israel, untuk kembali melancarkan serangan mereka.
 
Sekali lagi, pengakuan Palestina bukan kemenangan.
 
Rahmatika Choiria
Mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran (Unpad)
Aktif di komunitas menulis Cendol
Anggota LDK DKM Unpad
(//rfa)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s