Gadis Berjilbab Putih

GADIS BERJILBAB PUTIH

Juli 2008. Gadis berjilbab putih itu duduk menyendiri di depan pelupuk mataku. Sudah 15 menit ia duduk di tempat itu seorang diri. Dan sudah 15 menit pula aku mengamatinya. Tepatnya sejak ia memasuki gerbang sekolah ini. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Hanya sesekali ia melihat ponselnya. Aku yakin 100% dia akan mengikuti Pelatihan Kader Dasar Taruna Melati 1. Namun dari tadi, mulutnya terus terkunci. Padahal ia tahu ia duduk di depan bagian pendaftaran.

Lama-lama kasihan juga melihatnya. Sampai aku memutuskan untuk menyapanya. “Mbak, mau daftarkan?,”sapaku.  “Iya mbak, tapi masih nungguin temenku”. “Katanya dia jadi panitia di acara ini,”jawabnya ramah. “Temennya namanya siapa lho?,” tanyaku lagi. “Rania,”katanya singkat. “Kok kenal ama Rania?”.”Iya dia temen sekamarku di pondok”. “Ow, yaudah tungguin aja”. “Tadi katanya Rania dia pulang bentar mau jemput adiknya”.

Nama gadis berjilbab putih itu adalah Dzakia Rifqi Amalia. Aku tahu saat ia menuliskan namanya dalam formulir pendaftaran. Di sela-sela waktu istirahat Rania memperkenalkan aku pada gadis berjilbab putih itu, yang sebenarnya sudah kuketahui namanya. Aku tak banyak berbincang padanya. Karena, kegiatan yang diadakan dalam Pelatihan Kader Dasar Taruna Melati 1 sangatlah padat.

Kegiatan Pelatihan Kader Dasar Taruna Melati 1 berlangsung selama 3 hari. Kegiatannya hampir sama seperti kegiatan yang kita lakukan dalam proses belajar mengajar. Diantaranya adalah ceramah dari mentor-mentor handal mengenai arti penting kader, makna konsep diri, dan masih banyak lagi yang lain. Selain itu, tiap pagi dan malam selalu ada apel(semacam upacara). Pemimpin apel berasal dari peserta yang terpilih. Kemudian, mereka mendapat gelar Jendral(untuk pemimpin ikhwan) dan Jendril(untuk pemimpin akhwat). Masa berlaku Jendral dan Jendril hanya untuk 2 kali apel. Setelah itu harus ganti ke peserta lain.

Hari kedua, apel pagi. Masa berlaku Jendral dan Jendril pertama telah habis. Giliran peserta lain yang menggantikan. Kali ini, cara pemilihannya berbeda dengan yang kemarin. Kalau kemarin, adalah yang bisa menjawab pertanyaan, sekarang adalah pemaksaan. Maksudnya peserta disuruh menutup mata mereka, dan temanku yang memilih siapa yang bakal menjadi Jendral dan Jendril.

Apel pagi ini, giliran Rania yang turun ke lapangan. Siapa lagi yang bakal dipilih kalau bukan Dzakia. Ia menggeret tangan Dzakia ke depan lapangan dan memakaikannya mahkota sekaligus srempang Jendril. Kawanku ikhwan, rupanya juga tak kalah cepat dalam mendapatkan mangsa seorang Jendral. Dalam sekejap, sudah ada Jendral dan Jendril yang berdiri di depan lapangan. Setelah itu, peserta disuruh membuka matanya kembali untuk mengikuti apel pagi.

Lucu juga melihat Dzakia memakai mahkota dan srempang dari dedaunan yang telah dibuat oleh panitia kemarin. Apalagi mendengar suaranya saat harus menyiapkan peserta akhwat dengan bahasa planet yang telah kuciptakan tempo hari. Aku dan teman-teman panitia lain, hanya bisa terkekek-kekek dari jauh melihat penampilan dan kebingungan jendral dan jendril dalam mengucapkan bahasa planet Antah Berantah tersebut. 

Pada malam sehari sebelum hari terakhir, kegiatannya adalah renungan malam. Renungan malam ini diadakan di masjid Husni Mubarok. Lumayan jauh dari tempat pelaksanaan Pelatihan Kader Dasar Taruna Melati 1. Hal ini, membuat peserta harus berjalan kaki dahulu untuk menuju tempat renungan. Aku dan panitia lain, bertugas untuk menakut-nakuti peserta yang lewat. Yakni dengan cara bersembunyi di rumah-rumah orang.

Banyak peserta yang takut karena ulahku dan kawan-kawan panitia. Ada yang sampai belok ke rumah orang, gara-gara ingin mencari sumber suara. Kalau udah gini, tugas kami adalah menunjukkan jalan yang benar pada peserta. Anehnya, Dzakia sama sekali tidak takut dengan ulahku. Ia berjalan begitu saja mengikuti petunjuk dari panitia lain. Atau mungkin karena ia terlalu takut, sehingga tak berani menoleh kemanapun. Entahlah aku tak tahu.

3 hari ternyata bukan hari yang lama untuk menikmati suatu kebersamaan. Mau tidak mau, waktulah yang berbicara dalam memisahkan kebersamaan kami. Kebersamaan yang indah untuk para panitia dan kebersamaan yang nestapa untuk semua peserta. Karena mereka selalu dikejar oleh waktu dan kelengkapan atribut(berupa kartu peserta). Telat sedikit saja, hukuman sudah menanti. Seperti MOS saja.

Hari terakhir, seluruh peserta bergegas mengemasi barang-barangnya. Wajah-wajah mereka yang dulunya kuyu, kini menjadi cerah kembali. Mungkin, karena saking senangnya bisa kembali ke rumah tercinta. Atau karena dapat keluar dari kegiatan menyakitkan yang menguras energi serta pikiran. 

Pelatihan kader dasar Taruna Melati 1 telah usai. Rasanya hati ini belum puas dalam menjalin silaturahmi dengan gadis berjilbab putih itu. Aku ingin mengenal lebih jauh tentang dia. Karena sepertinya dia orang yang asyik untuk diajak ngobrol. Apalagi untuk dijadikan sahabat. Oleh karena itu, diam-diam aku mengesave nomor yang ia berikan saat mendaftar di pelatihan kader dasar Taruna Melati 1 tempo hari. Meski aku juga bingung menentukan waktu yang tepat untuk menghubunginya.

1 Ramadlan 2008. Aku menemukan waktu yang tepat untuk menghubungi Dzakia, gadis berjilbab putih yang bersahabat. Kukirimkan pesan tanpa nama yang berisi ucapan “Selamat Menjalankan Ibadah Puasa” kepadanya. Awalnya, aku begitu menanti jawaban dari dirinya. Akan tetapi, sudah 2 hari kutunggu ponselku tak kunjung menampakkan nama Dzakia. “Sudahlah, Ria. Mana mungkin, dia mau balas pesan kaleng darimu?”, ujarku pada pantulan wajahku yang terkurung dalam kaca.

3 Ramadlan 2008. Usai sahur dan sholat subuh, aku meneruskan mimpiku yang telah tertunda. Kembali tidur. Saat tidur, kudengar ponselku berbunyi. Namun rasa kantukku yang mendalam, membuatku tetap mendengkur dan mengabaikan bunyi ponselku tadi. Jam 8 pagi, aku terbangun oleh bunyi jam wekerku yang sangat nyaring. Kulihat ponselku. 1 new messages from Dzakia. Huah, mataku yang semula masih setengah merem langsung melek untuk memastikan penglihatanku.

Bunyi balasan SMSnya sangatlah alus. “Selamat Menjalankan Ibadah Puasa Ramadlan juga, semoga kita senantiasa mendapat pahala darinya. Tapi maaf ini siapa?”. Kesempatan emas untuk menjalin silaturahmi lagi. Jari-jariku segera menari pada keypad ponselku. Kujawab “Ria/TM1, masih ingat?”. Sejak saat itu, aku menjadi sering berkomunikasi dengan Dzakia, gadis berjilbab putih itu.

Malam 1 Syawal 2008, aku bersama kawan-kawan remaja masjid mengadakan takbir keliling.  Malam itu juga, saat diriku menyenandungkan suara takbir, ponselku bergetar. Malam itu, aku ingin khusyuk. Tak kuhiraukan berapa pesan masuk dalam inboxku. Tujuanku malam itu hanyalah mengirim pesan cinta pada Sang Maha Kuasa.

Jam 9 malam, acara takbir keliling selesai. Ada 10 new messages dalam ponselku. Salah satunya dari gadis berjilbab putih itu, Dzakia. Ternyata dia benar-benar ingat kepadaku.

Januari 2009. Organisasiku, Ikatan Pelajar Muhammadiyah mengadakan Rihlah (semacam tamasya) ke telaga Sarangan. Tak kusangka, lagi-lagi Rania bisa membawa teman-teman pondoknya. Dia memang pandai dalam berorganisasi dan mempengaruhi teman. Dia juga turut membawa serta Dzakia. “Alhamdulilah, bisa ketemu lagi,”gumamku. “Ya, Rania yang memaksaku ikut,”katanya. Alamak, ternyata dia mendengar gumamanku.

Di Sarangan, aku dan Dzakia naik perahu boot bersama. Sungguh menyenangkan. Kami juga berbelanja bersama. Menikmati kebersamaan yang indah. “Apakah dia ditakdirkan menjadi sahabatku Ya Allah?”, batinku. Sahabat yang datang dikala teman-temanku menjauhi aku. Aku hanya berharap, munajatku dapat didengar olehNYA.

14 April 2016. Aku menitikkan air mata, dia telah menjadi seorang yang ia harap-harapkan dulu. Ia telah menjadi seorang dosen di Universitas Al-Azhar. Dan hari ini, ia mengundangku untuk datang ke walimatul ursynya. Beruntungnya ia mendapatkan cinta kakakku. Aku datang bersama suamiku dan calon buah hatiku. Ketika tiba didekatnya, kubisikkan sesuatu “Akhirnya jendril menemukan jendralnya juga”. “Semoga sakinah mawadah wa rohmah”. Dengan tersipu malu ia menjawab “Amiin, alhamdulilah, Syukran Jiddan buat doanya, sahabat”. ”Afwan, sekarang panggil aku adik,”bisikku lagi tepat di telinganya.

Inilah buah dari silaturahmiku selama ini. Meski raga tak pernah bersatu, kami punya seribu cara untuk menjalin komunikasi. Terimakasih banyak kepada gadis berjilbab putih, yang tak lain tak bukan adalah sahabat sekaligus kakak iparku. Dialah Dzakia Rifqi Amalia yang berhasil menaklukkan hati kakakku. Sungguh Allah mempunyai banyak rahasia yang tak pernah bisa diduga-duga.

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s