Gadis Tunarungu

GADIS TUNARUNGU

Nama gadis tunarungu itu adalah Puput Rohmah. Kukenal ia sejak tiga tahun yang lalu. Tepatnya, sejak ibunya bekerja di rumahku. Ibunya adalah seorang pembantu rumah tangga. Ia tidak seperti gadis tunarungu lainnya. Ia adalah gadis yang pandai. Ia sering turut serta membantu pekerjaan ibunya.

Ia bersekolah di SLB Pertiwi. Sekarang usianya sudah menginjak 16 tahun. Jika ia bukan gadis tunarungu pastilah ia sudah SMA. Seusia denganku. Akan tetapi Tuhan berkata lain. Nyatanya ia masih SMP kelas VII.

Meski Puput seorang tunarungu, namun tingkahnya juga seperti gadis normal lain. Aku sering bercengkerama dengannya. Ia bisa mengerti bahasa orang normal. Walau kadang aku juga sedikit susah memahami bahasanya.

Kami sering menonton TV bersama. Ia juga mempunyai acara televisi favorit. Ia paham dan mengerti alur suatu sinetron. Bahkan ia juga memiliki artis yang ia banggakan. Ia sangat suka dengan Irwansyah. Entah bagaimana ceritanya ia dapat mengidola seorang Irwansyah. Seperti kebanyakan remaja perempuan lain. Aku tak tahu.

Yah, aku adalah anak bungsu dari tujuh bersaudara. Kakak-kakakku telah berkeluarga dan sibuk mengurusi anaknya sendiri-sendiri. Di rumah hanya ada aku dan ibuku. Bapakku juga telah tiada dua tahun lalu. Saat aku usai daftar ulang di sekolah baruku. SMA Negeri 1 Ponorogo. Temanku satu-satunya yang seusia denganku di rumah hanyalah gadis tunarungu tersebut.

Sering aku merasa kasihan dengannya. Merasakan betapa sepinya dunianya. Tak ada orang yang bisa ia ajak bicara. Akan tetapi, sepertinya ia tak mau dikasihani. Ia terus berusaha untuk membuat dunianya selalu ramai. Ia berusaha mewarnai dunianya sendiri.

Melukis adalah salah satu kegemarannya. Mungkin itulah cara yang ia lakukan dalam memberi warna pada dunia. Ia bisa memadukan satu warna dengan warna lain, untuk mendapatkan warna yang baru. Gambarannya selalu terkesan hidup. Aku saja dibuat kalah olehnya. Apalagi karena aku tidak menyukai seni sama sekali.

Selain gemar melukis, Puput juga sangat suka membaca. Terutama membaca majalah-majalah remaja. Aku sering memberinya majalah remaja seperti Gaul, Teen, Keren Beken yang telah aku baca. Ia juga pernah aku beri posternya Irwansyah. Hadiah dari majalah Gaul. Tak tanggung-tanggung poster itu segera ia pasang di rumahnya. Ia tidak serumah denganku. Ibunya kerja dari pagi sampai sore di rumahku. Malamnya mereka pulang ke rumahnya.

Suatu hari, Puput dan ibunya tidak berkunjung ke rumahku. Rumah terasa sepi tanpa kehadirannya. Aku dan ibuku tak tahu penyebab ketidakhadiran mereka. Kami berpikiran mungkin mereka kecapekan atau tidak ada kendaraan untuk ke rumah. Namun, mereka tak kunjung datang hingga hari ke tiga. Aku dan ibuku curiga, sesuatu terjadi pada mereka. Lalu, ibuku menyuruhku untuk mengunjungi mereka. Dan mencari tahu alasan absennya.

Ternyata sudah tiga hari ini Puput sakit. Ia terkena batuk, pilek, dan nafasnya sedikit sesak. Orangtuanya belum membawanya berobat ke dokter. Maklum, mereka adalah keluarga kurang mampu. Ibunya hanya pembantu rumah tangga di rumahku. Sementara bapaknya mencari nafkah sebagai kuli angkut di pasar. Tentu saja penghasilan mereka tak cukup untuk membawa Puput ke dokter.

Tiba-tiba retina mataku tertuju pada satu titik. Titik yang tadinya luput dari pandanganku. Titik itu adalah coretan-coretan milik Puput. Tepatnya disebut maha karyanya. Apalagi kalau bukan lukisan. Terhitung hampir berjumlah lima puluh buah. Semuanya indah dan nampak nyata. Sayang, itu semua tidak pernah ia kirimkan dalam suatu majalah atau sekadar diikutkan lomba.

“Maaf ya non. Bibik belum bisa kerja. Bibik gak bisa ninggalin Puput sendiri di rumah.”

“Iya bik. Nanti akan saya sampaikan ke ibuk. Ibuk pasti ngerti kok. Bibik tenang aja. Yang penting sekarang, Puput sehat dulu.”

“Makasih ya non. Non baik sekali.”

“Iya bik. Sama-sama. Sesama manusia harus tolong menolong.”

“Ya non.”

“Ehm.. ya udah bik. Saya pamit dulu ya. Nanti kalo kelamaan takut ibuk khawatir.”

“Iya non silakan. Jangan lupa sampaikan maaf bibik ke ibuk ya.”

“Iya bik. Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikum salam Warahmatullah.”

Kasihan sekali Puput. Dunianya sudah sepi, harus menanggung rasa sakit pula. Aku berinisiatif, meminta ibukku untuk membantunya berobat.

“Puput harus sembuh. Aku harus bisa membantu pengobatannya,” tekadku.

Dengan sedikit uang dari celengan ayam jagoku dan ditambah tambahan uang dari ibuk, aku berniat membawa Puput ke rumah sakit.

Hampir tidak sadar aku dibuat dokter. Puput terkena radang paru-paru. Dokter menyarankannya untuk rawat inap. Namun apa daya, keluarganya tidak mempunyai dana yang cukup. Bagi mereka, dapat membeli obat buat Puput itu sudah anugerah yang tak terkira.

Kehidupan Puput sekarang agak berbeda. Ia jadi jarang ikut ibunya ke rumahku. Ia lebih banyak berdiam diri di rumah. Hal itu membuatku kesepian. Meski Puput seorang tunarungu, namun ia bisa bermain dan bergaul denganku.

Hari ini, sekolahku pulang pagi. Aku sempatkan waktuku untuk mampir ke rumahnya, sekadar menengok keadaannya. Puput sudah agak baikan. Ia mengajakku melihat galeri lukisannya. Yah, meski hanya ditempel di dinding kamar dan sebagaiannya berantakan di meja belajar, tak layak disebut galeri lukisan. Tapi aku tetap menyebutnya sebagai galeri lukisan.

Diam-diam aku mengambil lukisannya yang berserakan di meja belajar. Aku masukkan dalam tas dan aku bawa pulang.

Esoknya, aku luangkan sedikit dari sisa waktu senggangku untuk pergi ke kantor pos. Aku telah berniat untuk mengirimkan lukisan Puput ke media. Sayang, bila lukisannya hanya tertempel di dinding rumah. Kan kalau dimuat, honornya juga lumayan. Semoga ini bisa menjadi batu loncatan buat Puput dan keluarganya.

Sudah sebulan sejak aku mengirimkan coretan tangan Puput ke media. Tak kunjung ada balasan. Aku sudah tak banyak berharap. Sepertinya lukisan-lukisan yang masuk ke media tersebut, lebih baik kualitasnya dibanding lukisan Puput.

Tiba-tiba ada kejutan tak terkira. Bapak kepala sekolah memanggilku ke ruangannya. Dengan rasa gontai dan takut luar biasa, sampai-sampai semua keringatku bercucuran membasahi badan. Kutemui beliau di ruangannya.

“Ada apa bapak?” tanyaku sedikit khawatir.

“Kamu suka nglukis?”. Beliau balik bertanya.

“Enggak bapak. Saya malah nggak bisa nglukis. Ada apa ya?” uraiku.

Suasana mulai sedikit mencair. Rasa keberanianku mulai muncul untuk menatap mata beliau. Pembicaraan semakin mengalir.

“Sekolah dapat surat dari Kompas. Lukisan yang kamu kirimkan, dimuat.”

“Benar pak?” tanyaku masih tak percaya.

“Kapan sih bapak bohong?”

“Selamat ya..,”ujar beliau sembari mengulurkan tangannya kepadaku.

Tanganku yang gemetaran dan terasa seperti es, membalas uluran tangan beliau. Aku malu bukan main. Bapak Kepala Sekolah pasti mengetahui kegugupanku.

“Sebenarnya itu bukan lukisan saya pak. Itu lukisannya anak pembantu saya. Saya juga sudah memberikan nama di balik lukisannya kok. Tapi ya sengaja saya alamatkan ke sekolah, agar mudah pencarian alamatnya.”

“Wow, anak pembantu kamu?”

“Ckckckckck,” decak beliau.

“Iya pak. Dia tunarungu. Saya kasihan dengannya. Pas di rumahnya, saya ambil satu lukisannya untuk dikirimkan ke media. Kan lumayan honornya bisa menyejahterakan keluarganya.”

“Ow,, baik sekali kamu, Nak,”puji beliau.

“Makasih bapak.”

“Oya, di Pendopo kabupaten akan ada pameran lukisan. Bagaimana kalau lukisan dia kamu ikutkan dalam pameran tersebut?”

“Akan saya coba bapak. Tapi mekanisme pendaftarannya bagaimana?”

“Saya adalah salah satu panitianya. Berikan saja pada saya. Dan nanti akan saya pamerkan.”

“Ya bapak. Akan saya diskusikan dulu dengan keluarganya.”

Sungguh ini berkah yang tiada terkira. Siapa sangka, aku yang hanya ingin menolong Puput dengan mengirimkan karyanya, justru mendapatkan lebih. Karya Puput akan dipamerkan.

Alhamdulilah, keluarga Puput tidak marah akan keputusan sepihakku. Yakni mengirimkan karya Puput ke media. Hari ini pameran lukisan akan digelar. Dan lukisan Puput masuk dalam pameran tersebut.

Tak disangka, banyak yang berminat membeli lukisan Puput. Penawarannya juga tak kecil. Mereka berani memberi harga setinggi-tingginya untuk lukisan gadis tunarungu.

Kini Puput bukanlah Puput yang dulu. Ia adalah gadis tunarungu yang bisa menorehkan tinta emas. Tinta prestasi. Itulah tinta emasnya.

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s