TINGGALKAN SAPI IMPOR, SAATNYA KEMBALI KE SAPI LOKAL

Sapi merupakan hewan ternak anggota suku Bovidae. Banyak orang memelihara hewan ternak ini, karena memiliki banyak manfaat. Sapi dipelihara untuk dimanfaatkan susu dan dagingnya sebagai sumber protein manusia. Selain itu hasil sampingannya yang berupa kulit, ekor, dan tanduknya juga digunakan sebagai hiasan perabotan rumah tangga. Di beberapa tempat, sapi juga dimanfaatkan sebagai penggerak alat transportasi, pengolahan sawah, dan alat industri lainnya seperti peremas tebu.

Indonesia memiliki berbagai macam bangsa sapi, dimulai dari sapi lokal sampai dengan sapi impor yang didatangkan dari luar negeri. Hal ini disebabkan, karena jumlah kebutuhan sapi di negeri ini sangat besar lantaran manfaat dari hewan ternak ini sangatlah banyak.

Sapi lokal adalah sapi yang berasal dari peranakan sapi Indonesia atau dari persilangan sapi antar wilayah di Indonesia. Ada beberapa jenis sapi lokal yang dikembangkan di negeri ini. Diantaranya adalah; sapi PO, sapi Bali, sapi Madura, sapi Jabres, dan sapi Aceh. Sapi PO merupakan sapi peranakan ongole, hasil persilangan antara pejantan sapi Sumba Ongole dengan sapi betina Jawa yang berwarna putih. Sapi Bali (Bos Sondaicus) adalah sapi asli Indonesia hasil penjinakan (domestikasi) banteng liar yang telah dilakukan sejak akhir abad ke 19 di Bali, sehingga sapi jenis ini dinamakan Sapi Bali. Sapi Madura pada mulanya terbentuk dari persilangan antara banteng dengan Bos indicus atau sapi Zebu, yang secara genetik memiliki sifat toleran terhadap iklim panas dan lingkungan marginal serta tahan terhadap serangan caplak (http://dompi.co.id/_dompi.php?_i=jenis-sapi). Sapi Jabres merupakan persilangan antara sapi peranakan ongole, sapi madura dan sapi bali yang sudah terjadi sejak zaman penjajahan Hindia Belanda. Wilayah sebaran asli geografisnya berada di Kabupaten Brebes dengan wilayah sebaran di Provinsi Jawa Tengah (http://disnak-kabbrebes.blogspot.com/2012/09/penetapan-rumpun-sapi-jabres-oleh.html). Sapi Aceh, merupakan hasil persilangan antara sapi Bos Indicus dengan banteng yang merupakan ternak sapi asli, bukan peranakan dari luar daerah (http://duniasapi.com/id/edufarming/1897-sapi-aceh.html).

Dengan adanya permasalahan lonjaknya harga daging sapi lokal karena masuk nya sapi impor ke Indonesia menjadikan pemerintah turun tangan. Pasalnya kebutuhan daging masyarakat Indonesia sangat tinggi, khususnya di DKI Jakarta dan Jawa Barat. Itu semua tidak diimbangi dengan ketersediaan pasokan daging di Indonesia karena jelas akan membuat para peternak sapi lokal menaikkan harga daging tersebut. Menanggapi permasalahan tersebut pemerintah memilih untuk memasukkan daging impor ke Indonesia. Meski memang kenyataannya harga daging sapi di Indonesia paling mahal diantara negara-negara tetangga. Padahal dengan langkah tersebut pemerintah telah merugikan para peternak sapi lokal. Pasalnya, Kementerian Perdagangan menyebutkan selisih antara harga jual sapi potong peternak dengan daging-daging segar sangat besar. Dari peternak, sapi biasanya dijual dengan Rp 35.000 per kilogram. Namun sampai di pasaran, harganya mencapai Rp 90.000 alias meroket Rp 55.000. Melihat kenyataan tersebut yang diuntungkan disini adalah para importir yang berkesempatan menjadi penentu harga.

(http://www.tempo.co/read/news/2013/02/06/058459510/Pedagang-Minta-Harga-Sapi-Impor-Sama-dengan-Lokal)

            Alasan kenapa sapi lokal harus dipilih, karena sapi lokal memiliki beberapa keunggulan yang tidak dimiliki oleh sapi impor. Diantara keunggulan sapi lokal  adalah sebagai berikut:

1. Daya adaptasi terhadap iklim tropis terutama cuaca kemarau panas sangat baik. Sehingga tahan dari caplak dan penyakit kulit lainnya tidak seperti sapi impor/sapi simmental, limousin
2. Konversi pakan sangat baik walaupun dengan pakan seadanya, karena kebanakan dari peternak Indonesia adalah peternak rakyat. Sapi lokal mampu bertahan hidup dengan kondisi performan badan yang tetap ideal. Sedangkan sapi impor butuh pakan yg selalu terjamin kualitasnya untuk bisa hidup sehat, bereproduksi normal, sementara rata-rata peternak Indonesia berpenghasilan rendah yang tak kuat untik membeli pakan yang mahal
3. Kemampuan reproduksi sangat bagus. 1 ekor sapi bisa beranak minimal 5 kali bahkan bisa sampai 8 kali apabila didukung dengan manajemen pemeliharaan yang baik. Sementara sapi impor bila pemeliharaannya tidak tepat dan mengalami penyusutan bobot badan, maka sudah tidak bisa bunting.

Dari ketiga keunggulan tadi , seharusnya pemerintah lebih memperhatikan para peternak baik dalam pengelolaan serta pengolahan sapi yang mereka pelihara. Jangan sampai para importir menguasai pasokan daging di Indonesia , padahal Indonesia sendiri mampu untuk menyediakan kebutuhan daging masyarakatnya. Pemerintah pun harus mencegah adanya para peternak yang menjual sapi betina produktif meskipun harga yang ditawarkan oleh para importer tersebut tinggi karena justru hal tersebut akan membuat keberadaan sapi semakin punah.

Oleh karena itu, pemerintah harus segera mengurangi dan meminimalisir sapi impor dan kembali kepada sapi lokal. Pemerintah harus segera membuat kebijaksanaan terkait keberadaan sapi lokal yang semakin sedikit pasokannya lantaran pasokan sapi impor yang masuk ke Indonesia. Selain itu pemerintah juga harus menyamakan harga sapi impor dan sapi lokal, karena keberadaan sapi impor bukan untuk melambungkan harga daging tetapi untuk menstabilkan pasaran. Pemerintah atau dinas peternakan setempat, hendaknya juga turun tangan untuk memantau pemotongan yang ada di RPH-RPH di wilayahnya. Hal ini penting dilakukan untuk menghindari pemotongan sapi betina produktif agar swasembada daging 2014 benar-benar terealisasi.

Dengan demikian, pemerintah harus kembali kepada sapi lokal agar peternak-peternak Indonesia tak lagi dimiskinkan oleh keberadaan sapi impor.

Rahmatika Choiria feat Gina Nafsil Mutmainah (16 besar KDBITN 2013 LPM Husbandry)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s