7 Bulan Terakhir Menjadi Mahasiswa

Halo.. Saya mau memenuhi janji. Janji yang tak saya ucapkan sih, juga tak saya tuliskan. Namun sebenernya, saya punya janji pada diri saya sendiri untuk nulis pengalaman selama penelitian atau apalah setelah defense. YEAH… Alhamdulillah.. I’m fresh graduated from the oven yesterday (iya udah 19 Juli sekarang). Rasanya sampai saat ini, masih belum  beneran percaya kalo nama saya telah bertambah tiga huruf (semoga bisa menambah lagi Aamiin).

Perjuangan sejak Desember 2015 sampai 18 Juli 2016 terbayar sudah. Dari Desember 2015-Februari 2016 nyusun draft usulan penelitian. 22 Maret 2016  seminar Usulan Penelitian. 24-30 April 2016 penelitian. dan 18 Juli 2016 akhirnya sidang akhir *ambigu, yaudah sih*.

Nah saya mau cerita mulai fase 24-30 April sampai yesterday. Penelitian saya ini gampang-gampang susah, susah-susah gampang *lah gimana maksudnya* (yagituwe -_-) Pada awalnya dulu sebelum Desember 2015, sempet pengen penelitian “idealis”di lab pelihara ayam. Tapi akhirnya memutuskan untuk penelitian lapangan, walau saya sadar, saya bukan anak lapangan sama sekali dari dulu. “But perhaps, you hate a things that it is good for you and perhaps you love a things that it is bad for you and Allah knows while you know not” -QS 2:216- Saat menulis ini tiba-tiba saya teringat ayat itu. Ternyata Allah justru mendekatkan saya pada sesuatu sesuatu yang menurut saya bukan “saya banget” atau apalah, termasuk Allah mendekatkan saya pada kakak -terintrovert- yang ga akrab banget sama saya *eh jadi ganti topik gini*. Akhirnya saya berdamai untuk menjadi anak lapangan untuk melakukan penelitian lapangan. Dan Alhamdulillah, saya juga mendapat kesempatan nge-lab di kegiatan Summer Research Program University of Tsukuba (25 Juli-6 Agustus 2016).

Saya ke Garut (karena penelitian saya di Garut) itu pertama survey sebelum seminar UP. Naik bis sama temen, lanjut ngangkot ke Kecamatan sampai ke desa, dipinjemi motor sama sekdes (tapi motornya kopling -dan saya sukses ga bisa-) masih inget banget perjuangan nahan motor biar ga meluncur ke bawah karena jalannya yang naik turun. Setelahnya saya ke Garut lagi pas di tanggal-tanggal penelitian itu. Pertama dibonceng temen dari Jatinangor dan sukses ga dapet apa-apa karena kesana hari Sabtu (kantor desa tutup kalau Sabtu) akhirnya survey doang *lagi*. Yang kedua juga masih dibonceng temen, namun saya udah tau letak desa dan nama salah satu peternak di desa tersebut. Nyari-nyari rumah peternak tersebut diantara tiga desa (ga usah dibayangin gitu, ga sesusah nyari jarum dalam jerami kok :p). Untungnya ketemu Ibu-Ibu (seinget saya) yang tau rumah peternak tersebut (setelah dramak nanya2 orang cukup lama). Dan Alhamdulillah-nya peternaknya pas ada di rumah (saya sedang lupa kalau hidup di jaman teknologi, soalnya ga tanya ke dosen nomernya peternak).  Dianterinlah muter2 tiga desa sama peternak itu. Dari satu kandang ke kandang lain, sampai crocs dan bagian bawah baju saya kotor paraah. Sebelnya ada yang bilang saya salah kostum dan malah diledekin juga sama peternaknya. Dari tiga desa itu cuma dapet 9 ekor kalo ga salah (padahal di draft awalnya cuma di tiga desa). Karena pembimbing minta 20 ekor, maka harus tetap nyari 11 lainnya.

Beberapa hari kemudian, saya ke Garut lagi. Kali ini saya ngebonceng temen. Saya pergi ke pasar (set nyari pasar aja sampe Garut, bukan ini bukan pasar biasa, ini pasar domba). Saya pergi kesana dan sukses dirubung -alias jadi pusat perhatian- penjual-penjual domba. Padahal saya udah bilang, “lagi penelitian, cuma mau ngukur” tapi teteplah dipaksa-paksa beli *yakalee* lalu akhirnya nge-pehape-in mereka. Itu juga cuma dapet 1-2 ekor.

Beberapa hari kemudian *lagi*, saya ke Garut lagi, dan masih ngebonceng temen, namun temen yang diajak beda lagi. Saya pergi ke desa tempat saya pertama survey, bermaksud nemuin pas sekdes dan minta dianterin buat nyari domba yang sesuai kriteria penelitian saya. Eh, tapi ga ketemu. Akhirnya nyari-nyari sendiri (berdua deng sama temen itu). Jadi nyari nya teh ngeliat kandang, kalau dombanya cocok, baru ngetok pemilik rumah atau peternaknya. Ada yang sampe saya naik-naik kandang -karena kandangnya tinggi dan diatas-, ada juga yang kandangnya sempit -untung masih muat badan saya- kurus sih wkwk, ada juga yang badan saya sempet kesruduk domba. Sampai akhirnya dapet 20 ekor domba dari tiga desa berikutnya jadi totalnya enam desa. Yeay.. Alhamdulillah. Pengalaman paling wah saat harus ngomong sunda. Sering diketawain banget sama temen, lalu akhirnya dia yang jadi penyambung lidah saya. Menurut saya, penting banget untung ngomong sunda ke peternak, bukan karena meremehkan mereka ga bisa Bahasa Indonesia, tapi ya biar lebih akrab aja. Begitu kurang lebih cerita penelitiannya.. kalau kurang mohon dimaafkan kalau lebih mohon dikembalikan.

Mei skripsi-an sampe ACC di awal Juni (lupa tanggal berapa). Awalnya mau langsung sidang pas Juni, tapi karena sudah mepet libur lebaran, jadilah sidang setelah lebaran tanggal 18 Juli 2016 jam 11.00-12.30 (kurang lebih juga waktunya seperti itu) dan sidangnya di Laboratorium Reproduksi Ternak. Istimewa emang. Sampe sidang di lab. -_- HAHAHA. Lalu yudisium sekitar jam 15.00. Kata-kata bu Waldek 1 yang paling saya ingat adalah “selamat, karena anda telah bisa tidur dengan nyenyak” HAHAHA dasar ria, pikirannya tidur melulu.. Rasanya belum beneran percaya sampe saat ini “saya sudah alumni (?)”

Sekian cerita perjalanan 7 bulan terakhir saya sebagai mahasiswa Fakultas Peternakan Unpad.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s